Kamis, September 09, 2010
   
Text Size

Gus Dur, Terbaik Setelah Soekarno

Jakarta – Ajaran paling berharga dari Gus Dur di mata Ahmad Dhani adalah pluralisme. Yakni, bagaimana pentingnya bertoleransi di Indonesia yang kemudian memunculkan hal baru.

Termasuk, menjadikan Konghucu sebagai salah satu agama yang diakui.Sebagai orang yang sering bersilaturahmi kepada Gus Dur, Dhani merasa mendapat banyak pelajaran. Tapi, yang paling membuat dia berpikir lebih luas adalah tentang pluralisme itu.Menurut Dhani, Gus Dur sudah mencapai apa yang dinamakan puncak pemahaman. Itu dicoba diterapkan di Indonesia melalui pemikiran dan kebijakannya saat menjadi presiden. ’’Beliau sangat sadar bahwa kemampuan yang hakiki hanya bisa diperoleh dengan toleransi. Pluralisme, itu ajaran Gus Dur untuk Indonesia,’’ ujar pentolan Dewa 19 itu kepada Pontianak Post tadi malam.

Dhani menyatakan, Gus Dur sebagai seorang yang memahami semua ilmu dan bisa berbicara dalam banyak bahasa. Tidak semua pemimpin di Indonesia bisa seperti itu. ’’Habibie itu pintar dalam hal teknologi, tapi tidak dalam hal lain. Gus Dur ini lengkap. Gus Dur adalah orang Indonesia terbaik setelah Bung Karno. Cuma ada dua, Soekarno dan Gus Dur. Yang lain masih belum,’’ ujarnya.
Dhani menilai Gus Dur sebagai tokoh yang memiliki pemikiran tak berbatas. Atas dasar itulah, sering pemikiran Gus Dur dianggap nyeleneh atau menuai kontroversi. ’’Banyak orang yang pemikirannya ’belum sampai’. Sulit bagi yang tidak bisa berpikiran terbuka untuk memahami apa yang dipikirkan Gus Dur. Bagaimana mungkin orang yang pikirannya dibatasi bisa memahami pikiran Gus Dur yang tidak terbatas,’’ tegasnya.

Kehilangan Kakak
Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, yang menjadi Wapres ketika Gus Dur memimpin negara pada 1999–2001, merasakan kehilangan yang sangat dalam. Bagi Ketua Umum DPP PDIP itu, Gus Dur adalah sosok sahabat sekaligus kakak yang sangat mengayomi.’’Kedekatan mereka lahir secara alamiah karena pemahaman ideologi dan paham kebangsaan yang sama,’’ kata Sekjen DPP PDIP Pramono Anung tadi malam (30/12).Begitu mendengar Gus Dur wafat, kata pria yang akrab disapa Pram itu, Megawati langsung berangkat ke RSCM. Selanjutnya, Mega juga datang untuk bertakziyah ke rumah duka di kawasan Ciganjur, Jakarta.


Saat itu Megawati dan keluarga besarnya berada di Bogor. Dia tengah menyiapkan peringatan ulang tahun (HUT) ke-67 suaminya, Taufik Kiemas, yang jatuh pada 31 Desember (hari ini). Rencananya, ultah ketua MPR itu bertepatan dengan momentum pergantian tahun ini dirayakan di Bogor.Pram menuturkan bahwa dirinya adalah saksi mata saat Gus Dur dan Megawati bertemu kali pertama setelah dilengserkan dari presiden dalam Sidang Umum MPR pada Juli 2001. Keduanya bertemu di kediaman Megawati di Jalan Kebagusan, Jakarta Selatan. Saat itu Megawati menggantikan Gus Dur sebagai presiden. Taufik Kiemas juga hadir dalam silaturahmi tersebut.Tidak seperti dibayangkan banyak orang, kata Pram, pertemuan itu sama sekali tidak menegangkan. Suasananya justru sangat gayeng layaknya pertemuan dua sahabat karib. ’’Mereka seperti lupa dengan politik. Asyik berbicara soal makanan dan kesehatan,’’ tutur Pram.
Kapan pertemuan itu terjadi? ’’Saya lupa. Yang jelas sebelum 2004,’’ kata tangan kanan Megawati itu.


Inspirasi Pemimpin Dunia  
Penasehat DPP MABT (Majelis Adat Budaya Tionghoa) Kalbar Andreas Acui Simanjaya mengungkapkan, kepergian Gus Dur pada penutup tahun 2009 sungguh mengejutkan dan meninggalkan duka mendalam. “Bagi saya pandangan beliau yang humanis menjadi inspirasi bagi banyak pemimpin dunia, walaupun sebagian orang sulit menerima sikapnya yang terus terang dan apa adanya, “ kata Acui kemarin malam (30/12). Menurutnya, bagi warga Tionghoa tidak dapat melupakan jasa  Gus Dur. Dia tegas dan berani memulai langkah penting dalam berkehidupan bernegara di Indonesia ini. Semua warga Negara mesti dilakukan dengan setara dan adil.  Hal ini ditandai dengan upaya pengakuan Agama Konghucu, penghapusan SBKRI dan mencanangkan Imlek sebagai hari Libur Nasional.
 “Sikap tegas dan pengakuan Gus Dus untuk memperlakukan warga Tionghoa sebagai bagian tidak terpisahkan dari RI merupakan langkah  bersejarah tak akan pernah dilupakan. Dia seorang pemimpin yang mempunyai pikiran terbuka, antidiskriminasi dan menghargai perbedaan umat manusia sebagai keangungan sang pencipta,” kata Acui yang mantan anggota DPRD Kalbar itu.  

Ikon Pluralisme
Mantan Ketua MPR Amien Rais memuji Gus Dur sebagai ikon pluralisme di Indonesia. Mantan presiden itu juga dinilai berhasil membawa organisasi yang pernah dipimpinnya, Nahdlatul Ulama (NU), dari kondisi marginal menjadi arus utama atau mainstream gerakan sosial politik di Indonesia.
Amien yang mengakui dirinya adalah sahabat sekaligus lawan berpikir Gus Dur itu memuji jebolan Al Azhar dan Universitas Baghdad tersebut sebagai anak bangsa yang telah berhasil memajukan pondok pesantren menjadi lebih terbuka serta mampu mendorong partisipasi pesantren dalam pembangunan nasional dan dunia Islam. ’’Kita kehilangan besar dengan tutup usianya Gus Dur. Saya berharap mudah-mudahan akan muncul tokoh baru dari kalangan Nahdlatul Ulama untuk melanjutkan perjuangan almarhum,’’ katanya di Jakarta kemarin.
Amien juga mencatat Gus Dur selama menjabat presiden berhasil mengubah lembaga kepresidenan menjadi lembaga yang tidak angker dan dapat diakses seluruh elemen bangsa. ’’Karena itu, kita ucapkan selamat jalan, semoga Allah menerima amal salehnya serta mengampuni kesalahan dan dosanya. Semoga Gus Dur mendapat husnulkhatimah,” tuturnya.
Amien yang sempat disebut-sebut terlibat perang dingin sejak lengsernya Gus Dur dari jabatan presiden tersebut mengaku hubungannya secara pribadi tetap baik. Setelah peristiwa itu, Amien dan Gus Dur tetap berkomunikasi dengan hangat, mayoritas ketika bertemu di ruang tunggu bandara. ’’Dulu waktu Indosat mau dijual ke Singapura, saya sempat berbicara setengah jam dengan Gus Dur. Enam bulan lalu, saya terakhir ketemu tetap ger-geran sambil ngrasani pemerintah sekarang. Jadi, tidak benar kalau disebut kami perang dingin,’’ tegasnya.(berbagaisumber)

 

BACA JUGA:

Indeks Berita

Follow us on Twitter
© DPP PKB
Sekretariat Jenderal Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa
Jl. Sukabumi No. 23, Menteng, Jakarta Pusat 10310
Telp/Fax: 021-3155138
Email: dpp@dpp-pkb.or.id

Admin Contact