Palestina Butuh Aksi Nyata Dunia
Kamis, 29 Juli 2010 03:55
Bandung – Duta Besar Palestina untuk Republik Indonesia (RI) Fariz al-Mehdawi mengatakan negaranya membutuhkan dukungan dunia untuk terbebas dari kungkungan Israel.
Menurut dia, Palestina memerlukan gerakan pasti dari dunia internasional. “Bukan sekadar percakapan,” ujar Fariz dalam dialog interaktif tragedi Mavi Marmara “Dapatkah Tragedi Mavi Marmara dijadikan Pelanggaran HAM Internasional” dan launching Kotak Peduli Palestina di Aula Universitas Islam Bandung (Unisba), Jalan Tamansari, Kota Bandung,kemarin. Dialog yang juga menghadirkan praktisi jurnalistik televisi Fitra Rotari, Ketua Harian Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) Muqodom Cholil, dan dosen Fakultas Komunikasi Unisba Aziz Taufik Hirzi ini diprakarsai harianSeputar Indonesia,KNRP,dan Himpunan Mahasiswa Hubungan Masyarakat (Humas) Unisba.
Fariz menuturkan, kekuatan dunia dapat memojokkan Israel dan membuatnya kolaps sehingga pemerintahan mereka, yang kini di bawah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, tidak lagi bisa berbuat apa-apa. Terlebih membuat alibi. “Kejahatan mereka dan pelanggaran HAM (hak azasi manusia) bukan hanya dalam tragedi Mavi Marmara,”ucapnya. Dukungan dunia, tandas Fariz, bisa dalam sisi akademis yang menghasilkan kajian ilmiah untuk menekan Israel atau juga dukungan media yang mem-blow up fakta dan data terkait kejahatan HAM Israel.
“Banyak bentuk bantuan dan saya sangat menghargai apa yang sudah dilakukan Indonesia sebagai negara sahabat. Republik dengan demokrasi paling besar di dunia sudah membantu kami untuk terbebas,”pungkasnya. Sementara itu, Ketua Harian KNRP Muqodom Cholil mengatakan, kejahatan dan pelanggaran HAM yang dilakukan Israel sudah banyak memakan korban di pihak Palestina. Menurutnya, tragedi Mavi Marmara adalah bentuk kearoganan Israel yang tidak berdasar.“ Tidak ada dasar hukumnya Israel bisa menyergap dan menggagalkan misi kemanusiaan,” ujar Muqodom.
Untuk itu, tambah dia sangat wajar apabila negara-negara di dunia mengajukan permohonan kepada International Criminal Court (ICC) untuk mengadili pimpinan negara Israel.Menurutnya, blokade jalur Gaza yang dilakukan Israel, bahkan untuk misi kemanusiaan, merupakan salah satu pelanggaran HAM. “Tapi sangat disayangkan,baru hanya Turki yang mengajukan keberatan. Parahnya lagi, Turki harus berhadapan dengan kekuatan lobi Israel di PBB untuk tidak memerkarakan apa yang sudah mereka lakukan,”tuturnya. Praktisi jurnalistik televisi Fitra Rotari mengatakan, media bisa berbuat banyak untuk membantu Palestina.
Bahkan, bukan hanya media konvensional seperti halnya koran, televisi, atau radio. “Tapi juga media jejaring sosial seperti Facebook atau Twitter. Terbukti, walau hanya kecaman, lewat media tersebut dunia mengecam apa yang dilakukan Israel,” kata reporter salah satu televisi swasta tersebut. Pada acara tersebut juga diluncurkan program Kotak Peduli Palestina.
Kotak yang menerima sumbangan uang ini akan dibuka jika sumbangannya dianggap cukup. Sumbangan dimaksudkan untuk membantu masyarakat Palestina. Beberapa waktu lalu sejumlah anggota DPR juga menyumbang untuk pembangunan fasilitas umum.Rombongan dipimpin langsung Ketua DPR Marzuki Alie.
(sumber: seputar-indonesia.com, krisiandi sacawisastra)
