Gubernur Dipilih Langsung
Kamis, 29 Juli 2010 03:32
Menurut Presiden, pemilihan kepala daerah (pilkada) bukanlah pilihan yang murah dan mudah. Sebab, dalam pelaksanaannya terkadang membutuhkan biaya serta ongkos politik yang mahal. Pilkada, ujarnya, juga kerap diwarnai berbagai praktik politik uang hingga kerusuhan. Namun, menurut SBY, pilkada tetap lebih baik, sebab lebih bisa mendekatkan pemilih dengan calon pemimpinnya.
“Pilihan yang terbaik adalah dipilih secara langsung karena konstituen itu akan lebih dekat mengenal calon dan kemudian siapa pun yang terpilih berarti mendapatkan mandat terbesar dari rakyat atau masyarakat yang dipimpinnya. Itu pilihan kita,” tegas SBY saat memimpin rapat dengan Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) di Kantor Presiden, Jakarta, kemarin.
SBY mengatakan, banyaknya soal yang mewarnai pilkada tidak serta-merta membuat pilkada diubah dari langsung menjadi tidak langsung.Yang lebih penting, ujarnya, adalah mencari pemecahan masalah agar pelaksanaan pilkada berjalan efektif sehingga tidak menimbulkan komplikasi dan masalahmasalah baru yang tidak semestinya terjadi. “Dalam praktiknya, memang kita sadari banyak ekses, kadang tidak mudah membedakan antara popularitas dan kapasitas dan seterusnya,”tandas Presiden. Pelaksanaan pilkada secara langsung mulai bergulir sejak dikeluarkannya Undang-Undang (UU) No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Pemda).
Sayangnya, sejak pertama kali digelar pada Juni 2005,pilkada langsung ini terus diwarnai berbagai masalah, terutama terjadinya politik uang dan kerusuhan.Terakhir,pilkada di tiga kabupaten di Sulawesi Selatan, yaitu Soppeng,Toraja, dan Gowa, harus berakhir rusuh karena ketidakpuasan masyarakat terhadap hasil ataupun tahapan pilkada. Selain menimbulkan banyak konflik, pilkada langsung juga disorot karena mahalnya biaya yang harus dikeluarkan. Diperkirakan, dana yang dibutuhkan untuk membiayai pilkada langsung ini mencapai Rp15 triliun untuk pilkada di 500 kabupaten/kota pada 2010– 2014.Untuk setiap kali perhelatan pilkada di kabupaten/kota, diperlukan dana sekitar Rp7 miliar–10 miliar.
Adapun biaya pilkada di tingkat provinsi jauh lebih mahal, sekitar Rp50 miliar. Selain dari negara, dana besar juga harus dikeluarkan calon yang mengajukan diri menjadi pemimpin daerah. Sebab, mereka harus menggelar kampanye atau menarik simpati massa sehingga terkadang para calon ini harus mengeluarkan uang untuk menarik massa. Praktik politik uang inilah yang sepertinya sangat sulit dihilangkan dalam perhelatan pilkada langsung.
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi bahkan tidak membantah bahwa pelaksanaan pilkada langsung sangat erat kaitannya dengan praktik politik uang. Dia pun mengaku sangat sulit membuktikan praktik politik uang tersebut, sebab calon pemimpin daerah pandai mengakalinya. “Kalau money politic (politik uang) sudah pasti,yang susah sekarang ini pembuktiannya. Kadang-kadang diakalin. Kalau calon itu kalah, ini menjadi masalah serius karena calon kehilangan uang yang cukup besar,”tegas Gamawan.
(sumber : seputar-indonesia.com, maesaroh/ mohammad sahlan)
